11 Tanda Menjelang Kematian dalam Islam

11 Tanda Menjelang Kematian dalam Islam

Kematian adalah bagian dari takdir setiap makhluk hidup. Dalam pandangan Islam,  menjelang kematian bukanlah akhir, melainkan gerbang menuju kehidupan abadi di akhirat.

Sebagai umat Muslim, memahami tanda-tanda menjelang kematian bukan hanya untuk menambah wawasan, tetapi juga agar kita lebih siap secara spiritual dan mampu hadir bagi orang-orang terdekat yang tengah menghadapi sakaratul maut.

Berikut ini adalah tanda-tanda umum menurut pandangan Islam yang dapat muncul saat seseorang menjelang kematian:

1.Tubuh Melemah

Menjelang wafat, tubuh seseorang biasanya kehilangan tenaga. Kegiatan sederhana pun menjadi sulit dilakukan. Ini merupakan isyarat fisik bahwa tubuh mulai bersiap meninggalkan dunia.

2. Keringat di Dahi

Imam Ghozali pernah menuliskan ciri ini dalam kitabnya yang berjudul Ats-Tsabat ‘Inda al-Mamat, sebagaimana dijelaskan Abdullah Bin Buraidah dari ayahnya, rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam berkata, “ orang beriman meninggal dengan keringat pada alisnya.” (HR Tirmidzi)

3. Sorot Mata Meredup

Mata kehilangan sinarnya, tampak sayu dan tak berdaya. Kondisi ini menandakan melemahnya fungsi organ tubuh secara menyeluruh, termasuk penglihatan.

4. Kesulitan Bernapas

Napas menjadi pendek dan tersengal. Tubuh berjuang untuk mendapat oksigen yang cukup, sering kali tampak sebagai tarikan napas berat menjelang akhir.

5. Perubahan Suhu Tubuh

Tubuh bisa terasa dingin atau sangat hangat. Hal ini menunjukkan organ-organ tubuh mulai kehilangan fungsinya secara bertahap.

6. Meningkat hingga Hilangnya Nafsu Makan

tepatnya 7 hari jelang ajal menjemput, Seseorang akan mengalami nafsu makan yang sangat meningkat hingga di ujung kehidupan sering kali tidak lagi merasa lapar, nafsu makan menurun drastis, metabolisme tubuh melambat, dan kebutuhan akan asupan makanan pun hilang.

7. Bercak di Kulit

Munculnya bercak-bercak kebiruan pada kulit menandakan menurunnya sirkulasi darah, yang dikenal sebagai livor mortis.

8.Perubahan Kesadaran

Menjelang akhir, orang bisa tampak bingung, mengigau, atau tidak responsif. Ini merupakan tanda bahwa otak mulai mengalami penurunan fungsi.

9. Melihat Alam Lain

Dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa orang yang hampir wafat dapat melihat hal-hal dari alam gaib — seperti malaikat, surga, atau neraka bahkan halusinasi bertemu dengan orang-orang terdekat yang telah meninggal dunia. Ini adalah pengalaman spiritual yang memperlihatkan dekatnya peralihan ke alam akhirat.

10. Ketenangan dan Kepasrahan

Banyak orang yang akan meninggal justru tampak tenang dan damai. Ketakutan berganti menjadi keikhlasan, dan hati semakin dekat dengan Allah Subhanahu Wata’ala

11. Sakaratul Maut

Inilah fase paling akhir dari kehidupan. Sakaratul maut bisa diiringi rasa sakit yang dahsyat.

Beratnya proses kematian tergambar jelas dari kisah salah satunya percakapan antara Sayyidina Umar bin Khattab dan Ka‘b.

Saat itu, Sayyidina Umar yang menjabat sebagai khalifah bertanya, “Wahai Ka‘b, ceritakan padaku tentang kematian.” Ka‘b menjawab, “Maut itu seperti pohon penuh duri yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia. Setiap durinya mencengkeram urat-urat tubuh, lalu semuanya ditarik dengan kuat. Maka terputuslah urat-urat itu, dan rasa sakitnya pun luar biasa.”

Dengan memahami tanda-tanda ini, kita diingatkan akan pentingnya persiapan akhir hayat — baik secara pribadi maupun dalam membantu sesama. Kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, tetapi dihayati sebagai bagian dari perjalanan menuju Allah Subhanahu Wata’ala

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita, menerima amal kita, dan menggolongkan kita ke dalam barisan orang-orang yang beriman dengan kematian husnul khatimah sebagai hadiah. Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin

 

Patungan Kurban Bahagia Bantu Sesama

Patungan Kurban – Setiap Iduladha, semangat umat Muslim Indonesia untuk berkurban selalu terasa hangat dan hidup. Kandang-kandang hewan kurban bermunculan di pinggir jalan, menjadi simbol antusiasme untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Lebih dari itu, ibadah kurban juga menjadi jembatan kepedulian—menyapa saudara-saudara kita yang jarang menikmati daging, terutama di pelosok negeri.

Namun, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk membeli hewan kurban sendiri. Di sinilah patungan kurban menjadi solusi bijak. Dengan bergotong royong, satu ekor sapi bisa dikurbankan oleh tujuh orang.

Ini bukan sekadar kerja sama sosial, tetapi wujud iman kolektif—saling menopang agar semua bisa merasakan indahnya berkurban.

Bolehkah Patungan Kurban dalam Pandangan Islam?

Para ulama dari empat mazhab besar dalam Islam memiliki pandangan yang berbeda tentang hukum kurban.

Namun secara umum, kurban dianjurkan, bahkan sebagian menyebutnya sebagai sunnah muakadah bagi yang mampu.

Beberapa ulama juga membolehkan berutang demi berkurban, jika yakin mampu melunasinya.

Lalu, bagaimana dengan hukum patungan kurban?

Dalam syariat, kurban kambing hanya boleh untuk satu orang (meski boleh diniatkan untuk satu keluarga). Sedangkan untuk sapi, kerbau, dan unta, Islam membolehkan patungan hingga tujuh orang. Hal ini berdasarkan beberapa hadis sahih, di antaranya:

“Kami pernah bepergian bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat hari penyembelihan tiba, kami patungan untuk satu ekor sapi sebanyak tujuh orang.”
(HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)

“Kami menunaikan haji tamattu’ bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami menyembelih seekor sapi dari hasil patungan tujuh orang.”
(HR. Muslim)

Berdasarkan hadis-hadis tersebut, para ulama sepakat bahwa patungan kurban adalah sah dan diperbolehkan dalam Islam, selama mengikuti ketentuan jumlah dan jenis hewannya.

Mana yang Lebih Utama?

Sebagian ulama menyatakan bahwa satu kambing untuk satu orang lebih utama daripada patungan sapi tujuh orang. Hal ini karena manfaatnya lebih luas dan ibadahnya lebih personal.

Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim dalam Shahih Fiqh Sunnah (2:375), serta Fatwa Lajnah Daimah (No. 1149) dan Syarhul Mumti’ (7:458) menyebutkan bahwa tujuh kambing bisa memberi manfaat lebih besar dibanding satu ekor sapi.

Imam As-Syirazi dari mazhab Syafi’i juga berkata:

“Kambing (sendirian) lebih baik daripada urunan sapi tujuh orang, karena orang yang berkurban bisa menumpahkan darah sendiri.”
(Al-Muhadzab, 1:74)

Namun, dalam konteks sosial dan ekonomi Indonesia, di mana banyak masyarakat hidup dengan penghasilan terbatas, patungan kurban menjadi solusi terbaik agar lebih banyak yang bisa berpartisipasi.

Bersama Bahagia Bantu Sesama, Kita Bisa Berkurban!

Patungan kurban adalah bentuk kebersamaan yang indah. Bukan hanya dalam membagi biaya, tetapi juga dalam menyatukan hati untuk beribadah dan berbagi. Mari wujudkan kepedulian dengan bergabung dalam program Patungan Kurban Bikin Bahagia Sesama. Karena setiap tetes kebaikan yang kita sisihkan, bisa menjadi berkah yang luar biasa bagi mereka yang membutuhkan.

>klik Disini untuk ikut Patungan Kurban<

Kurban dan Pemberdayaan Ekonomi: Mewujudkan Keadilan Lewat Program Bahagia Bantu Sesama

Perayaan Iduladha merupakan hari raya yang sangat penting bagi umat Islam, di mana ibadah kurban menjadi salah satu ritual utamanya. Ibadah kurban bukan hanya sekadar pelaksanaan perintah Allah Suhanahu Wata’ala, tetapi juga merupakan wujud ketundukan dan keikhlasan, yang meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Namun, lebih dari itu, kurban juga membawa dimensi sosial dan ekonomi yang sangat strategis, karena menjadi sarana bagi umat Islam untuk berbagi dengan sesama, khususnya mereka yang berada dalam kondisi kurang beruntung.

Dalam hal ini, program Bahagia Bantu Sesama dengan inisiatif Program Berbagi Hewan Kurban berupaya untuk memperluas manfaat ibadah kurban dengan aspek sosial dan ekonomi.

BHK muncul karena kesadaran bahwa distribusi hewan kurban di Indonesia tidak merata, terutama antara wilayah perkotaan dan daerah-daerah terpencil.

Banyak daerah di luar kota besar yang kesulitan mendapatkan pasokan hewan kurban, sementara di kota-kota besar, hewan kurban sering kali terkonsentrasi di kalangan orang-orang yang sudah lebih mampu.

Ketimpangan ini dapat memperburuk ketidakadilan sosial, sekaligus mengurangi esensi sosial dari ibadah kurban itu sendiri.

Data dari Kementerian Pertanian RI 2024 menunjukkan bahwa produksi hewan kurban nasional mencapai sekitar 1,75 juta ekor per tahun, namun distribusinya cenderung terkonsentrasi di wilayah perkotaan, dengan sekitar 60% dari total hewan kurban berada di sana.

Di sisi lain, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 mencatat bahwa sekitar 13,74% penduduk di desa masih hidup di bawah garis kemiskinan, sedangkan angka kemiskinan di kota hanya sekitar 7,38%. Hal ini menunjukkan pentingnya distribusi kurban yang lebih merata ke daerah-daerah yang membutuhkan.

Melalui program BHK, Bahagia Bantu Sesama berupaya untuk menyebarkan manfaat kurban ke wilayah-wilayah yang kurang mendapat perhatian, seperti kawasan pedalaman, daerah rawan pangan, serta komunitas-komunitas yang terpinggirkan.

Selain memberikan kesempatan bagi umat Islam untuk melaksanakan ibadah kurban mereka, program ini juga membantu mengatasi ketimpangan sosial dan ekonomi di berbagai daerah.

Dengan demikian, kurban bukan hanya ritual pribadi, tetapi juga sarana memperkuat solidaritas sosial di seluruh Indonesia, baik di wilayah kaya maupun di wilayah yang masih tertinggal.

Selain memperhatikan aspek distribusi, Bahagia Bantu Sesama juga menaruh perhatian khusus pada pemberdayaan peternak kecil. Peternak-peternak lokal yang sebelumnya kurang mendapat akses ke industri hewan kurban, kini diberikan pelatihan dan dukungan dalam aspek manajemen peternakan, kesehatan hewan, dan pemasaran.

Tujuan utama dari pemberdayaan ini adalah untuk membangun peternakan rakyat yang mandiri, produktif, dan mampu bersaing di pasar. Dengan cara ini, peternak kecil bisa lebih berdaya dalam mengelola usaha mereka, dan pada saat yang sama, berkontribusi pada industri kurban di tingkat nasional.

Program ini juga memastikan bahwa prinsip keadilan ekonomi tetap dijaga. Meskipun peternak kecil diberdayakan dan dilatih secara intensif, harga jual hewan kurban tetap terjangkau oleh masyarakat umum.

Hal ini memastikan bahwa peternak mendapatkan harga yang layak, sementara masyarakat tetap bisa melaksanakan ibadah kurban dengan harga yang wajar.

Selain pemberdayaan langsung kepada peternak, Bahagia Bantu Sesama juga mengembangkan kemitraan dengan koperasi ternak. Skema koperasi ini memungkinkan peternak-peternak yang sebelumnya bekerja sendiri-sendiri untuk bersatu dalam wadah yang lebih kuat.

Koperasi bertugas mengelola produksi, meningkatkan kualitas hewan, serta membuka akses pasar yang lebih luas bagi para peternak. Pendekatan koperasi ini juga memperkuat jaringan solidaritas antar peternak, meningkatkan daya tawar mereka di pasar, dan membangun ekonomi lokal yang lebih berkelanjutan dan adil.

Melalui seluruh inisiatif tersebut, Bahagia Bantu Sesama sedang membangun sebuah model kurban yang berkelanjutan. Kurban tidak hanya berfungsi sebagai acara tahunan yang selesai setelah Iduladha, tetapi juga sebagai pemicu kesejahteraan yang berkelanjutan.

Model ini menjadikan kesejahteraan peternak tidak bergantung pada satu musim saja, tetapi juga pada kapasitas produksi yang terus berkembang, pasar yang terus terbuka, dan komunitas peternak yang semakin kuat.

Kurban yang berbasis pada pemberdayaan ekonomi ini menunjukkan bahwa ibadah memiliki potensi untuk menjadi sarana transformasi sosial yang sangat kuat.

Ia bukan hanya sebuah ritual untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi juga merupakan tanggung jawab sosial untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil, makmur, dan berdaya.

Dengan cara ini, kurban tidak hanya menjadi sarana ritual pribadi, tetapi juga alat untuk memperjuangkan keadilan sosial.

Dalam menghadapi berbagai tantangan global, seperti ketimpangan ekonomi, krisis pangan, dan perubahan iklim, model pemberdayaan seperti yang dilakukan oleh Bahagia Bantu Sesama semakin relevan.

Kurban dapat menjadi lebih dari sekadar tradisi tahunan; ia dapat menjadi gerakan sosial yang membawa perubahan nyata bagi banyak orang.

Tantangan selanjutnya adalah bagaimana memperluas dan mereplikasi model ini di lebih banyak tempat, serta menanamkan kesadaran bahwa setiap tetes darah kurban adalah komitmen kita untuk mewujudkan keadilan sosial.

Yuk, pilih hewan terbaik kita bersama Bahagia Bantu Sesama dan tebarkan manfaat ke seluruh penjuru Nusantara dengan klik tautan berikut: bahagiabantusesama.org

 

 

 

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!