Kurban dan Pemberdayaan Ekonomi: Mewujudkan Keadilan Lewat Program Bahagia Bantu Sesama

Perayaan Iduladha merupakan hari raya yang sangat penting bagi umat Islam, di mana ibadah kurban menjadi salah satu ritual utamanya. Ibadah kurban bukan hanya sekadar pelaksanaan perintah Allah Suhanahu Wata’ala, tetapi juga merupakan wujud ketundukan dan keikhlasan, yang meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Namun, lebih dari itu, kurban juga membawa dimensi sosial dan ekonomi yang sangat strategis, karena menjadi sarana bagi umat Islam untuk berbagi dengan sesama, khususnya mereka yang berada dalam kondisi kurang beruntung.

Dalam hal ini, program Bahagia Bantu Sesama dengan inisiatif Program Berbagi Hewan Kurban berupaya untuk memperluas manfaat ibadah kurban dengan aspek sosial dan ekonomi.

BHK muncul karena kesadaran bahwa distribusi hewan kurban di Indonesia tidak merata, terutama antara wilayah perkotaan dan daerah-daerah terpencil.

Banyak daerah di luar kota besar yang kesulitan mendapatkan pasokan hewan kurban, sementara di kota-kota besar, hewan kurban sering kali terkonsentrasi di kalangan orang-orang yang sudah lebih mampu.

Ketimpangan ini dapat memperburuk ketidakadilan sosial, sekaligus mengurangi esensi sosial dari ibadah kurban itu sendiri.

Data dari Kementerian Pertanian RI 2024 menunjukkan bahwa produksi hewan kurban nasional mencapai sekitar 1,75 juta ekor per tahun, namun distribusinya cenderung terkonsentrasi di wilayah perkotaan, dengan sekitar 60% dari total hewan kurban berada di sana.

Di sisi lain, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 mencatat bahwa sekitar 13,74% penduduk di desa masih hidup di bawah garis kemiskinan, sedangkan angka kemiskinan di kota hanya sekitar 7,38%. Hal ini menunjukkan pentingnya distribusi kurban yang lebih merata ke daerah-daerah yang membutuhkan.

Melalui program BHK, Bahagia Bantu Sesama berupaya untuk menyebarkan manfaat kurban ke wilayah-wilayah yang kurang mendapat perhatian, seperti kawasan pedalaman, daerah rawan pangan, serta komunitas-komunitas yang terpinggirkan.

Selain memberikan kesempatan bagi umat Islam untuk melaksanakan ibadah kurban mereka, program ini juga membantu mengatasi ketimpangan sosial dan ekonomi di berbagai daerah.

Dengan demikian, kurban bukan hanya ritual pribadi, tetapi juga sarana memperkuat solidaritas sosial di seluruh Indonesia, baik di wilayah kaya maupun di wilayah yang masih tertinggal.

Selain memperhatikan aspek distribusi, Bahagia Bantu Sesama juga menaruh perhatian khusus pada pemberdayaan peternak kecil. Peternak-peternak lokal yang sebelumnya kurang mendapat akses ke industri hewan kurban, kini diberikan pelatihan dan dukungan dalam aspek manajemen peternakan, kesehatan hewan, dan pemasaran.

Tujuan utama dari pemberdayaan ini adalah untuk membangun peternakan rakyat yang mandiri, produktif, dan mampu bersaing di pasar. Dengan cara ini, peternak kecil bisa lebih berdaya dalam mengelola usaha mereka, dan pada saat yang sama, berkontribusi pada industri kurban di tingkat nasional.

Program ini juga memastikan bahwa prinsip keadilan ekonomi tetap dijaga. Meskipun peternak kecil diberdayakan dan dilatih secara intensif, harga jual hewan kurban tetap terjangkau oleh masyarakat umum.

Hal ini memastikan bahwa peternak mendapatkan harga yang layak, sementara masyarakat tetap bisa melaksanakan ibadah kurban dengan harga yang wajar.

Selain pemberdayaan langsung kepada peternak, Bahagia Bantu Sesama juga mengembangkan kemitraan dengan koperasi ternak. Skema koperasi ini memungkinkan peternak-peternak yang sebelumnya bekerja sendiri-sendiri untuk bersatu dalam wadah yang lebih kuat.

Koperasi bertugas mengelola produksi, meningkatkan kualitas hewan, serta membuka akses pasar yang lebih luas bagi para peternak. Pendekatan koperasi ini juga memperkuat jaringan solidaritas antar peternak, meningkatkan daya tawar mereka di pasar, dan membangun ekonomi lokal yang lebih berkelanjutan dan adil.

Melalui seluruh inisiatif tersebut, Bahagia Bantu Sesama sedang membangun sebuah model kurban yang berkelanjutan. Kurban tidak hanya berfungsi sebagai acara tahunan yang selesai setelah Iduladha, tetapi juga sebagai pemicu kesejahteraan yang berkelanjutan.

Model ini menjadikan kesejahteraan peternak tidak bergantung pada satu musim saja, tetapi juga pada kapasitas produksi yang terus berkembang, pasar yang terus terbuka, dan komunitas peternak yang semakin kuat.

Kurban yang berbasis pada pemberdayaan ekonomi ini menunjukkan bahwa ibadah memiliki potensi untuk menjadi sarana transformasi sosial yang sangat kuat.

Ia bukan hanya sebuah ritual untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi juga merupakan tanggung jawab sosial untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil, makmur, dan berdaya.

Dengan cara ini, kurban tidak hanya menjadi sarana ritual pribadi, tetapi juga alat untuk memperjuangkan keadilan sosial.

Dalam menghadapi berbagai tantangan global, seperti ketimpangan ekonomi, krisis pangan, dan perubahan iklim, model pemberdayaan seperti yang dilakukan oleh Bahagia Bantu Sesama semakin relevan.

Kurban dapat menjadi lebih dari sekadar tradisi tahunan; ia dapat menjadi gerakan sosial yang membawa perubahan nyata bagi banyak orang.

Tantangan selanjutnya adalah bagaimana memperluas dan mereplikasi model ini di lebih banyak tempat, serta menanamkan kesadaran bahwa setiap tetes darah kurban adalah komitmen kita untuk mewujudkan keadilan sosial.

Yuk, pilih hewan terbaik kita bersama Bahagia Bantu Sesama dan tebarkan manfaat ke seluruh penjuru Nusantara dengan klik tautan berikut: bahagiabantusesama.org